Kamis, 12 November 2009

Dari Inspirasi Hingga Masalah Kepercayaan Diri

Judul buku : Mengatasi 25 Hambatan Menulis

Penulis : Luqman Haqani

Penerbit : Pustaka Ulumuddin

Peresensi : HR. Joeswa



Menjadi penulis handal selalu berawal dari langkah-langkah penuh hambatan, baik yang datang dari luar maupun karena factor luar. tak jarang hambatan-hambatan itu, banyak pemula yang mengundurkan diri dari dunia tulis menulis, tapi tak sedikit pula yang menjadi handal dan penuh pecaya diri sehingga mereka dapat menikmati indahnya menjadi menjadi penulis.

Dunia tulis menulis merupakan hal yang sangat mudah tapi menyulitkan. karena memiliki berbagai macam hambatan. dari inspirasi yang tak kunjung datang, tulisan yang tak jelas ujung pangkalnya, judul yang tidak tepat dengan isi, tulisan yang tak pernah dimuat dimedia massa, tulisan dikembalikan editor, dan naskah gagal yang bertumpuk membuat penulis jengkel, prustasi, tak percaya diri, dan pesimi, bagaimana menghadapi semua itu? haruskah kita berhenti menjadi penulis?

Dalam buku ini, memiliki jawaban yang sangat mendetil tentang persoalan hambatan yang kita alami dalam dunia tulis menulis. Buku ini juga membahas tentang bagaimana cara mengatasi 25 hambatan dalam dunia tulis-menulis. diantaranya adalah:

Pertama: Inspirasi tak kunjung datang. inspirasi, gagasan atau ide merupakan modal utama dalam dunia tulis menulis. inspirasi yang baik ditunjang dengan pemahaman yang baik dalam penjabarannya akan menghasilkan tulisan yang berkwalitas.

Kedua: kebiasaan menunda-nunda, kebiasaan menunda memang bisa muncul akibat merasa belum bisa, belum mahir, malu, takut gagal, atau terlalu sibuk. Kebiasaan menunda akan mendorong terkonsentrasinya otak untuk mengumpulkan berbagai dalih, sehingga anda benar-benar tidak melakukan apapun karena dalih-dalih itu, Ketiga, Kesulitan membuat judul. membuat judul merupakan tantangan tersendiri dan khas bagi setiap penulis. tak jarang masalah judul ini turut menghambat proses penulisan.

Keempat, sulit memulai, sulit mulai adalah masalah yang paling banyak dikeluhkanpara penulis, hal ini tidak terbatas pada penulis pemula tapi penulis profesionalpun mengeluhkan. Kelima, sulit menjabarkan. sulit menjabarkan memilki maksud bahwa bukan sebatas kesulitan membuat kalimat pembuka tapi kesulitan menyelesaikan suatu tulisan itu, hingga tuntas. kadang ide sudah ada, penulis masih bingung apa yang mesti dilakukan dengan ide itu karena begitu gelap untuk menjabarkan ide tersebut.

Keenam dan seterusnya, sering merasa resah, .terlalu pesimis, tema tak jelas, tidak sepenuh hati, mengutip sumber, tidak mengenal visi dan misi media, naskah gagal, tulisan tidak pernah diterbitkan naskah tidak pernah dikembalikan, tidak percaya diri, diserang rasa takut, terlalu optimis, tidak yakin, sering kandas ditengah jalan, sering merasa panic, dihantui kenangan buruk.

Ini adalah 25 hambatan-hambatan yang selalu menghantam kita dalam dunia tulis- menulis. tapi yang paling menarik didalam buku ini adalah tidak percaya diri. kepercayaan diri sebenarnya terbentuk dari apa yang anda perbuat melinkan dari keyakinan diri. kepercayaan diri sejati berawal dari tekad pada diri sendiri untuk melakukan segala yang kita inginkan dan butuhkan dalam hidup ini sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Ada tiga hal yang terlupakan tapi ini adalah bukan penghambat melainkan sebuah pengajaran tentang bagaimana cara membuat feature, bagaimana mahir meresensi buku, dan mengapa haru belajar. Tiga hal ini, akan kami berikan gambaran sesuai dengan apa yang ditanyakan tadi. Feacture adalah tulisan ringan. Disini membahas tentang difinisinya secara rinci disertai dengan pendapat para tokoh-tokoh penulis dunia. Dan juga membahas unsur-unsurnya, pembagiannya ..

Selanjutnya membahas bagaimana mahir meresensi buku. Disini digambarkan tentang seseorang yang mengira kemahiran dalam meresensi buku, padahal seseorang itu tidak mahir.kemahiran seseorang dalam meresensi buku menurut penulis, dipengaruhi bakat 5%, keberuntungan 5% dan selebihnya 90% tergantung pada kesungguh-sungguhan.disinii juga, membahas tentang tekhnis meresensi,dijelaskan langkah-langkah meresensi dan manfaat meresensi.

Dan terakhir mengapa harus belajar. Didalam buku ini semuanya membahas tentang tujuan, manfaat dan efeknya. Disatu isi juga menjelaskan tekhnis belajar dengan nyaman.

Artikel Pribadi

Akhlak Modal Dunia Akherat

Oleh : Hr. Aswadi

Benarkah akhlak menjadi kunci sukses seseorang dunia akherat? Apakah akhlak mempunyai eksistensi penting dalam Islam? Apakah akhlak menjadi penentu bagi seseorang untuk masuk surga? Bukankah cukup hanya dengan iman, dan banyak beribadah kita dapat masuk surga? Apakah benar tujuan dari berbagai ibadah dalam Islam, seperti puasa, zakat, salat dan haji untuk membentuk akhlakmulia? Apakah tanpa akhlak mulia ibadah kita sia-sia?

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas, perlu kita telusuri dalam Al-Quran dan hadis, ternyata banyak hadis dan ayat yang secara langsung maupun tidak langsung menghubungkan antara ritual/ibadah pembentukan pembentukan akhlak mulia, hal ini dapat kita perhatikan dari berbagai ritual dalam Islam, ternyata semuanya selalu berhubungan dengan pembentukan akhlak mulia. Allah mengutus Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak manusia,”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak,”(HR. Ahmad).

Hadis tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah Saw di utus untuk memperbaiki akhlak manusia, mungkin kita akan bertanya apakah Rasulullah Saw di utus hanya untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak? Tentu tidak hanya untuk itu saja, tetapi pada dasarnya syariat yang dibawa para Rasul bermuara pada pembentukan akhlak. Apakah manusia tidak mampu memperbaiki akhlaknya sendiri, sehingga perlu diutus seorang Rasul? Bukankah manusia dibekali akal? Dengan akalnya manusia dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk? Mungkin di satu sisi argument tersebut ada benarnya, tetapi akal manusia terbatas, kalau akal dapat menentukan baik dan buruk tentunya Allah tidak perlu lagi menurunkan kitab-kitabnya, tidak perlu mengutus para Nabi untuk menjelaskan ayat-ayat-Nya?

Allah sangat peduli kepada manusia, Allah sangat tahu kemampuan manusia, meskipun diberi akal manusia tetap makhluk yang lemah, pengetahuannya terbatas. Sehingga Allah perlu mengutus Nabi dan Rasul untuk menjelaskan kitab-kitab-Nya dan menunjukkan manusia jalan yang lurus, dan akhlak yang mulia.

Buktinya, Rasulullah Saw di utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam,”Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam,”(QS. Al-Ambiya : 107). Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Rasulullah di utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, rahmat tidak akan dirasakan oleh makhluk di bumi kecuali dengan akhlak mulia, untuk mewujudkan rahmat itu Allah menurunkan kitab-kitabnya, dan mengutus para Rasul dan Nabi untuk menjelaskan kitab-kitab-Nya. Konsekuensi dari turunnya kitab-kitab Allah dan di utusnya para Nabi dan Rasul adalah adanya hokum/ Syariat yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Berbagai ritual diperintahkan Allah melalui para Nabi dan Rasul ternyata banyak bermuara pada pembentukan akhlak, seperti dalam perintah salat,”Dan dirikanlah salat sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar,”(QS. Al-Ankabut : 45). Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa muara dari ibadah salat adalah terbentuknya pribadi yang terbebas dari sikap keji dan mungkar, pada hakekatnya adalah terbentuknya manusia berakhlak mulia, bahkan kalau kita telusuri proses ritual salat selalu dimulai dengan berbagai persyaratan tertentu, seperti harus bersih badan, pakaian dan tempat, dengan cara mandi dan berwudhu, intinya salat dipersiapkan untuk membentuk sikap manusia selalu bersih, patuh, taat peraturan dan melatih seseorang untuk tepat waktu.

Dalam hadis qudsi Allah Swt. Berfirman,”Sesungguhnya Aku menerima salat dari seseorang yang mengerjakannya dengan khusuk karena kebesaran-Ku, dan ia tidak mengharapkan anugrah dari salatnya karena sebagai hamba-Ku, ia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, mengasihi orang miskin, ibnu sabil, mengasihi diri, dan menyantuni orang terkena musibah,”(HR. Azzubaidi).

Ternyata, Allah menerima salat seseorang bukan karena sebagai hamba, tetapi lebih kepada kemuliaan akhlaknya, seperti ikhlas tanpa pamrih, tidak bekerja karena atasan, menyantuni anak yatim, orang miskin, orang yang terkena musibah, tidak bermaksiat. Bila akhlak kita belum baik, maka salat belum di terima, bahkan ada kemungkinan kita termasuk orang-orang tidak berakhlak, lebih dari itu, jika kita belum mampu mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, sebenarnya kita telah gagal dalam ritual salat, dan kepribadian kita diragukan.

Untuk mengakhiri tulisan ini perlu kita merenungi salah satu contoh akhlak mulia yang mengantarkan seorang hamba dekat dengan khaliqnya,”Orang yang suka berderma dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, serta jauh dari neraka,”(HR. At-Tirmidzi). Allahu A’lam**

*Mahasiswa KPI FDK semester V

Amanah Seorang Muslim

Oleh : Hr. Aswadi

Amanah adalah satu hak yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang samada tanggungjawab itu milik Allah (hak Allah) mahupun hak manusia (hak insan) baik berupa pekerjaan mahupun perkataan dan pekerjaan hati. Pengertian amanah bererti menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar, seperti sesuatu kedudukan tidak diberikan kecuali kepada orang yang betul-betul berhak dan yang betul-betul mampu menunaikan tugas dan kewajipannya dengan benar. Kebaikan orang awam suka menyempitkan pengertian amanah hanya menjaga urusan yang melibatkan kewangan sahaja bahkan pengertian amanah di dalam Islam cukup luas dan berat pertanggungjawabkan.

Sabda Rasulullah s.a.w. dari riwayat Al-Bukhari yang bererti : ” Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu juga akan diminta bertanggungjawab tentang apa yang kamu pemimpin, ketua atau imam adalah pemimpin dan ia akan diminta tanggungjawab tentang apa yang dipimpin. Suami adalah pemimpin di dalam keluarganya, dan dia akan bertanggungjawab tentang apa yang dipimpin. Isteri juga dipimpin, dalam mengendalikan rumahtangga suaminya dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, dan pembantu rumahtangga juga pemimpin dalam mengawasi harta benda majikannya dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.

Dari hadis ini jelaslah bahawa tiap-tiap orang tidak dapat melepaskan diri dari tanggungjawab, dan tiap-tiap orang tidak dapat melepaskan tugasnya terhadap masyarakat dan semuanya akan ditanya oleh Allah apakah tanggungjawab kita itu dapat dilaksanakan dengan baik atau tidak.

Terdapat satu kisah yang telah diceritakan oleh Abdullah Ibnu Dinar ” pada suatu hari, saya berjalan bersama Khalifah Umar Al-Khatab di Mekah, waktu itu saya bertemu dengan seorang budak pengembala kambing yang sedang mengembala kambingnya. Kemudian Saidina Umar berkata kepada budak pengembala kambing itu : ” juallah kambing itu kepadaku ” budak itu menjawab :

” kambing ini bukan kambingku, tetapi kepunyaan tuanku “. Kemudian Saidina Umar sekali lagi cuba menawarnya : ” Bukankah engkau dapat mengatakan kepada tuan engkau, bahawa satu di antaranya telah dimakan serigala, dan pasti tuan engkau tidak akan mengetahuinya. ” Tidak, saya tidak mahu, ” kata budak itu, ” sesunggguhnya Allah maha mengetahui “. Kemudian setelah mendengar yang demikian, menangislah Saidina Umar dan berkata kepada pengiringnya supaya memanggil tuannya, Saidina Umar telah membeli budak itu lalu dibebaskan oleh beliau, dengan berkata : ” Sejak hari ini engkau bebas merdeka di dunia dan engkau akan lapang di akhirat “.

Sabda Rasulullah s.a.w. seperti mana yang telah diberitahu oleh Anas bin Malik yang bermaksud : Tidak sempurna iman seseorang yang tidak dapat dipercayainya. Dan tidak sempurna agama orang yang tidak menunaikan janji.

Firman Allah subhanahua ta’ala dalam surah An-Nisa’ayat 58 yang berbunyi :

Maksudnya : ” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil “.

Amanah hendaklah diberikan kepada orang yang benar-benar boleh melaksanakannya, kerana menurut hadis Rsulullah s.a.w. dari riwayat Muslim : ” Dari Abu Zhar, dia berkata : ” Saya berkata ” : Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memilih saya. “ Rasulullah bersabda ” hai Abu Zhar engkau seorang yang lemah, sedangkan itu sebagai amanah pada hari kiamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang dapat menunaikan hak kewajipannya dan memenuhi tanggungjawabnya.

Hadis di atas kita lihat dimana Abu Zhar ketika meminta jawatan, tidak dipedulikan oleh Rasulullah. Kerana amanah menuntut dan menghendaki kita memilih orang-orang yang lebih baik untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan. Jika kita cenderung memilih yang lain secara tidak berhati-hati, kerana mengamalkan sikap pilih kasih, bermakna kita telah melakukan pengkhianatan yang berat, kerana menyingkirkan orang yang ahli (mampu) dan mengangkat orang yang bukan ahli. Sesungguhnya kisah nabi Yusuf yang jujur, termaktub dalam Al-Quran adalah satu pengajaran yang baik untuk dijadikan pedomannya sepertimana firman Allah ta’ala :

Maksudnya : ” Berkata Yusuf : ” berikanlah kepadaku jawatan perbendaharaan negara (Mesir) kerana sesungguhnya aku adalah orang yang paling pandai menjaga, lagi berpengetahuan “.

Dan perhatikan riwayat hadis dibawah ini :

Yazid bin Abu Sufiyan berkata : Telah berkata kepadaku Abu Bakar r.a. diwaktu beliau mengutusku ke negeri Syam : Hai Yazid ! sesungguhnya engkau mempunyai kerabat, boleh jadi engkau mengutamakan mereka buat memegang kekuasaannya, dan itulah yang aku khuatirkan atasmu, kerana Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang bererti :”Barangsiapa menguasai sesuatu dari urusan kaum muslimin, lalu dia memberi kuasa kepada seseorang atas mereka kerana cintanya, maka laknat Allah menimpa atasnya, Allah tidak diterima daripadanya gantian dan tidak pula tebusan, sehingga dia dimasukkan ke dalam neraka jahannam “. (Riwayat Al-Hakim)

Dalam satu hadis Rasulullah s.a.w. digambarkan bahawa kemusnahan akan berlaku sekiranya amanah diberikan kepada orang yang bukan ahlinya. Hadis tersebut yang bererti : Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w., bertanya tentang ” bilakah terjadi kiamat “. Rasulullah s.a.w. menjawab : yang bermaksud : ” Apabila hilang amanah, tunggulah kiamat itu. Orang itu bertanya lagi : Bagaimanakah keadaan itu berlaku ? jawab Rasulullah s.a.w. : ” iaitu apabila sesuatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamatnya (kerosakan).

Untuk memenuhi erti amanah, hendaklah manusia berlumba menunaikan tugasnya dengan tegas dan bersungguh-sungguh serta sebaik-baiknya dalam menyempurnakan satu amanah yang dijunjung tinggi. Islam menyarankan supaya manusia ikhlas bekerja dan suka memperhatikan hak-hak manusia yang diamanahkan kepadanya, tidak memandang ringan tugas yang diamanahkan.

Rasulullah s.a.w. telah menjelaskan, tidak akan berlaku kiamat yang lebih besar dan yang lebih buruk daripada khianat seorang muslim yang diamanahkan memimpin urusan manusia, tetapi kemudian dia mengabaikannya sehingga semua urusan jadi terbiar dan sia-sia. Oleh itu jangan kita menyalahgunakan kedudukan yang diberikan untuk menarik keuntungan peribadi atau keluarga.

Memang telah sewajarnya bagi pekerja tanpa mengira pangkat mendapat imbuhan kaji sebagai ganjarannya, tetapi berusaha mencari tambahan kaji atau upah dengan jalan penyelewengan seperti rasuah adalah usaha haram dan berdosa besar.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :”barangsiapa yang kami angkat menjadi penguasa (pemerintah) untuk mengerjakan sesuatu, dan kami memberi upah menurut semestinya, maka apa yang dia ambil lebih dari upah yang sepatutnya adalah satu kesalahan “

(Riwayat Abu Daud)

Firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 161 yang bermaksud : ” Tidak mungkin seorang nabi mengkhianati dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatinya; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedangkan mereka itu tidak teranayai “.

Mahasiswa KPI Fakultas Dakwah IAIN Mataram

ARTIKEL ORANG LAIN

URGENSI AQIDAH DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK MANUSIA*

Oleh S. Bekti Istiyanto, S.Sos**

Aqidah secara bahasa diambil dari kata aqdun-’Aqoid yang berarti akad atau ikatan, menguatkan; mengokohkan; meneguhkan.

Secara istilah aqidah dimaknai sebagai :

1. sesuatu yang wajib diimani diyakini tanpa keraguan dan menjadi panutan dan diperjuangkan pemeluknya

2. pemikiran yang mendasar dan menyeluruh yang ada pada seseorang tentang alam, manusia dan kehidupannya dan menjadi landasan bagi setiap perilakunya

Permasalahan

Dewasa ini umat Islam mengalami kemunduran yang sangat signifikan. banyak diantara mereka mengaku Islam tapi tidak kenal dengan Islam bahkan tidak mau terikat dengan Islam itu sendiri. Mereka menjadikan Islam hanya sebagai sebuah legalitas formal orang beragama, tanpa mau tahu ada tuntutan atau konsekuensi logis atas pemilihan agamanya tersebut yaitu beribadah sesuai tuntunan agama yang diyakininya tersebut. Hal ini jelas menjadi ironis sekali, tapi secara umum umat Islam mengalami hal ini. Persoalan ini mendasar dan menjadikan renungan sampai sejauh mana ikatan aqidah seorang pemeluk agam Islam dapat diwujudkan dalam kehidupan atau sudah sedemikian lalaikah umat terhadap aqidah Islam ini.

Umat bebas menentukan pilihan termasuk paham/isme sebagai sarana mencapai kebahagiaan. Kita bisa membagi menjadi tiga kharakteristik besar isme besar dunia bersumber dari sini :

1. Keyakinan kapitalisme dan berkembang menjadi liberal, materialisme, hedonisme, dll.

2. Keyakinan Sosialisme berkembang mejadi komunisme, anti agama, dll.

3. Keyakinan Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin

Ketiga isme besar ini sangat berpengaruh dan menentukan arah bagi dunia ini berkembang. Hanya saja dalam Islam ada sumber keyakinan yang tidak mungkin salah dan itu ada dalam kitab yang diturunkan Allah SWT. kepada umatnya seperti 5:3, 19:85. Terpenting lagi dalam setiap rasul yang diturunkan tidak ada penyimpangan atas aqidah ini artinya selalu terjaga dari dulu sampai sekarang seperti dalam 21:25, 16:35, 4:136 dan tidak ada perbedaan atas para Utusan Allah dalam menyampaikan aqidah keyakinan ini dalam 42:13.

Manfaat dari belajar aqidah adalah :

v Akan mendapatkan buah mengenal Allah SWT.

v Aqidah menjadi sesuatu yang sangat diperntingkan dalam kehidupan

v Sebagai landasan ibadah

v Sebagai landasan membina masyarakat.

Perlu dipahami bahwa dakwah Rasulullah selama di Mekkah adalah ditujukan khusus masalah akidah dan ini dilakukan selama 13 tahun masa kenabian. Maka hasil yang dicapai oleh para sahabat Rasul bisa menunjukkan kualitas yang sempurna. Pada saat itu belum diturunkan aturan hukum-hukum lain yang mengatur kehidupan pribadi dan bermasyarakat, seperti muamalah, puasa dll. Bahkan sholat pun diturunkan Allah kepada Rasul menjelang hijrah ke Madinah. Disini disadari bahwa peranan aqidah adalah sangat penting dalam pembinaan manusia dan masyarakat.

Benar bahwa Rasullullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tapi akhlak yang sempurna ini tidak akan dapat terwujud tanpa disandarkan pada landasan keimanan karena aqidah yang mantap. Bila aqidah sudah dapat diwujudkan dalam amal maka dengan otomatis akhlak manusia pun akan dapat mengikutinya.

Salah satu yang harus diketahui dalam belajar akidah adalah memahami kembali makna syahadah. Mungkin kita sudah mengetahuinya walaupun banyak yang baru sebatas permukaan saja. Maksudnya, berbicara tentang makna syahadah dan urgensinya dalam kehidupan walaupun syahadah ini sudah sering kali ucapkan, bahkan dalam sholat-sholat kita. Tapi apa hakikat dari makna syahadah ini sering kita lalaikan.

Syahadah sendiri merupakan bagian dari rukun iman, bahkan merupakan rukun iman yang pertama. Artinya, mendapatkan kedudukan utama sebagai awal keislaman dan keimanan kita. Dengan mengucapkannya, seseorang berhak menjadi seorang muslim dan mempunyai kewajiban-kewajiban yang sama dengan muslim lainnya. Syahadah ini, merupakan pintu gerbang antara kegelapan jahilliyah menuju terang benderangnya cahaya Islam. Artinya, bila seseorang itu tidak Islam walaupun dia adalah seorang yang berpendidikan atau mempunyai kedudukan karena kekayaan dan kekuasaannya, tetap saja orang tersebut tergolong dalam kegelapan jahiliyah. Sementara bila seseorang telah berislam/bersyahadah walaupun dia seorang yang miskin tidak punya apa-apa, tidak berkuasa dan tidak berkedudukan tetap saja dia mempunyai nilai yang terhormat di sisi Allah karena telah tergolong manusia yang mengikuti nur Islam yang terang. Bahkan bila dia dalam kesabaran dan keistiqomahan bukan tidak mungkin akan mendapat naungan rahmat dari Allah. Dan ini akan memungkinkan orang tersebut masuk surga yang penuh kebahagiaan dan kedamaian. Karena berdasar hadist rasul barang siapa dalam hidupnya pernah mengucapkan syahadah maka dia akan dimasukkan dalam surga. Atau redaksi yang lain, pada saat kematiannya bisa mengucapkan syahadah pasti akan masuk surga. Hanya saja kalau menjelang mati merupakan hal yang sulit dilakukan bila di masa hidupnya tidak sering mengucapkannya. Dan saat hidup mengucapkan tapi tidak diamalkan apa bedanya dengan orang munafik, yaitu mengucapkan tapi tidak melaksanakannya.

Syahadah seperti sudah dimengerti mempunyai dua arti yaitu syahadah tauhid yang maknanya mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan tidak ada tuhan lain yang menyamai-Nya, dan syahadah Rasul yang mengimani Muhammad sebagai utusan Allah tapi perlu dipahami bahwa landasan iman ini mempunyai makna yang sangat mendalam berdasar hadist Rasul. Dan ini seringkali tidak dipahami oleh kebanyakan umat muslim, karena sudah menyederhanakan makna syahadah pada tempat yang tidak semestinya.

Minimal ada tiga makna yang harus dipahami dalam syahadah yaitu :

1. Tasdiiqul bil qolbi

Yaitu syahadah harus dibenarkan dalam hati. Bila unsur ini tidak dipunyai maka keraguan akan Islam akan muncul, padahal ini merupakan nilai terpenting akan keimanan seseorang. Ada kisah seorang sahabat bernama Amer bin Yassar yang dikisahkan memiliki keteguhan iman luar biasa sehingga harus disiksa oleh kaum kafir Quraisyi sehingga secara tidak sadar mengungkapkan kata-kata kekufuran karena kerasnya siksaan yang datang kepadanya. Akhirnya diketahui oleh Rasullullah dan diperbolehkan diucapkan selama hatinya tidak membenarkan. Ini membuktikan keimanan itu harus ada di dalam kalbu manusia, ayatnya ada dalam 49:14.

2. Iqrooru bil lisan

Yaitu syahadah harus diucapkan atau diumumkan melalui lisan/ucapan. Ada pembuktian secara nyata kepada orang lain keislaman kita dengan mengucapkan syahadah keislaman kita. Makanya bagi orang yang kembali masuk Islam, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengucapkan syahadah ini. Baru dia berhak menyandang gelar seorang muslim dan mempunyai kewajiban yang sama dengan muslim lainnya. Dengan pengucapan syahadah ini dapat membedakan seseorang muslim dengan non muslim.

3. al amalu bil arkan

Yang berikutnya inilah yang terberat karena mewajibkan setiap muslim mengaplikasikan syahadahnya dengan amal ibadah secara nyata. Syahadah bukan sekadar diucapkan dan dibenarkan oleh hati tapi sampai tingkat pelaksanaan hukum-hukum Allah baik berupa larangan dan perintah-Nya. Makanya bukan seorang muslim yang benar bila sekadar bersyahadah saja tapi tidak beribadah yang lain sesuai perintah Allah, seperti meninggalkan sholat, puasa, haji, dll. Pada tingkatan inilah seseorang dinilai sebagai muslim sejati atau tidak oleh Allah. Bila tidak berarti main-main dengan kesyahadahnya dan dapat digolongkan ke dalam umat yang munafik.

Lalu apa pengaruh akidah terhadap akhlak seorang muslim,khususnya pemuda. Kita bisa membahasnya dengan menyadari dahulu, tugas berat yang disandang pemuda di bawah ini :

1. Sebagai penyambung generasi kaum beriman (QS.52:21, 25:74)

2. Sebagai pengganti orang-orang yang beriman yang telah terjadi degradasi iman (QS.5:54)

3. Sebagai reformer spiritual terhadap kaum yang telah menyimpang dari agama (QS.5:104)

4. Sebagai unsur perbaikan (QS.18:13-14)

Hanya sayangnya, kebanyakan pemuda tidak memahami tugas berat ini karena lemahnya pemahaman terhadap Islam yang syamil dam mutakamil. Kita lebih sering mendapati mereka lebih suka nongkrong dan begadang di jalan, cuci mata di pusat perbelanjaan atau yang parah lebih suka menceritakan bagaimana mereka tawuran, teler, ajojing di pub dan diskotek, terlibat narkoba bahkan hubungan liar beda jenis antar mereka, daripada mereka yang baca Qur’an atau sedang mengaji di mushola atau seperti sekarang ini mengikuti kajian Islam. Suatu hal yang ironis, dikarenakan banyak tugas berat yang tidak mereka sadari karena ketidak pahaman atas makna dasar kehidupan ini. Seperti dari mana mereka berasal, untuk apa diciptakan dan akan bagaimana mereka hidup. Jarang jawaban yang dapat kita ambil dari mereka saat ditanya siapa idolanya, yang menjawab tokoh-tokoh panutan umat. Tapi tokoh glamour yang cenderung hedonisme (keduniaan) seperti artis, atlit -lah yang kebanyakan mereka agung-agungkan dan dijadikan teladan hidup.

Arus informasi yang semakin kompleks dan menerpa kita dari bangun tidur sampai kita tidur lagi semakin menambah rumitnya permasalahan. Banyak yang kemudian terlena tidak hanya masalah yang menjadi kewajiban utama tadi di atas tapi sekadar belajar untuk mengerjakan tugas perkuliahan pun jadi jarang terkerjakan secara sempurna. Akibatnya semakin fatal, benteng pemahaman yang tidak matang dikepung terpaan informasi yang cenderung bias dan menyesatkan semakin menjauhkan kita dari nilai-nilai pemahaman Islam yang sempurna. Kita bisa melihat contoh media massa (khususnya televisi) lebih sering menampilkan adegan seronok -minimal memudahkan cara untuk berhubungan dengan lawan jenis- dan sarkasme seperti cara membunuh, tindakan kriminal, mengumpat, dsb. Atau minimal musik yang melalaikan ditambah goyangan dan desahan suara yang membikin hati tidak tenang. Akhirnya norma pergaulan ketimuran pun -yang sarat batasan- pun mengalami goncangan. Apalagi agama. Jarang kita bisa menemukan orang tua yang mampu mengontrol pergaulan anak-anaknya, dengan siapa mereka bermain, bermain apa dan dimana, apa tujuan dan cara bermainnya. Privasi kehidupan semakin diagungkan, perhatian diartikan campur tangan dan dominasi. Dan akhirnya hubungan orang tua dan anak semakin renggang.

Efek lain yang muncul adalah larinya anak ke dalam pergaulan bebas yang lebih sering tanpa aturan, karena samanya keinginan dan usia yang menyebabkan anak jadi semakin susah diatur. Kalau mungkin larinya mereka (dalam banyak kasus dengan alasan mencari jati diri) ke dalam pergaulan yang bermanfaat seperti kegiatan ekstra kampus atau kegiatan lain yang lebih mengandung kebaikan, tidak akan membawa masalah. Tapi bila sebaliknya, akan berpengaruh yang sangat besar tidak saja secara pribadi tapi meluas ke dalam masyarakat secara umum. Dan biasanya mereka cenderung menyembunyikan apa yang mereka lakukan di luar rumah kepada keluarga mereka, dengan alasan renggangnya hubungan antar anggota keluarga. Hasilnya banyak orang tua yang kaget ketika mendapat laporan anak mereka menyimpang demikian jauh, padahal di rumah menunjukkan perilaku sebagai anak mami yang manis.

Satu masalah akhlak yang perlu mendapat perhatian serius adalah bebasnya hubungan antar jenis diantara pemuda yang nantinya menjadi tonggak pembaharuan di masa depan. Islam sangat memperhatikan masalah ini dan banyak memberikan rambu-rambu untuk bisa berhati-hati dalam melewati masa muda. Suatu masa yang akan ditanya Allah di hari kiamat diantara empat masa kehidupan di dunia ini. Kita bisa memahami hakikat pergaulan dalam Islam dengan melihat Al Qur’an :

“Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan” (QS.17:32). Dan kita bisa memahami rambu-rambu Ilahiah seperti berikut :

1. Rambu hati, didasarkan hadits shahih Bukhari :

Zina itu banyak cabangnya, yaitu zina hati, mata, dan telinga, dan alat kelaminlah yang akan membuktikan apakah berzina atau tidak”.

2. Rambu mata, didasarkan pada hadits shahih Bukhari “

“Apabila seseorang memalingkan pandangannya pada wanita (lawan jenis;pen) yang bukan muhrimnya karena takut kepada Allah, maka Allah akan membuat dia merasakan manisnya iman”.

Dalam An-Nur/24:30-31 ada larangan untuk mengumbar pandangan, dan hadits lewat Imam Ali : Hai Ali, hanya dijadikan halal bagimu pandangan yang pertama”(Bukhari).

3. Rambu telinga, adanya larangan untuk mendengar perkataan-perkataan yang tidak senonoh dan jorok.

4. Rambu tangan, wujudnya dengan martubasi dan bersalaman atau menyentuh lawan jenis yang bukan muhrimnya. Didasarkan pada hadits :

“Lebih baik seseorang menggenggam bara api (babi, di lain riwayat) atau ditombak dari duburnya hingga menembus kepala daripada menyentuh wanita yang bukan muhrimnya.”

Rasullullah selama hidupnya tidak pernah menyentuh wanita yang bukan muhrimnya, hanya mengucapkan salam.

5. Rambu kaki, larangan untuk melangkahkan kaki ke tempat-tempat maksiat atau tempat dimana terjadi pembauran laki-laki wanita yang tidak dikehendaki dalam Islam. Khusus wanita dilarang menghentakkan kaki dengan maksud memperlihatkan perhiasan (An-Nur/24:31).

6. Rambu suara, dasarnya surat Al-Ahzab/33:32 :

“Hai isteri-isteri Nabi, tiadalah kamu seperti salah seorang dari perempuan-perempuan itu jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lembut dalam berbicara sehingga tertariklah orang yang di hatinya ada penyakit (keinginan), dan ucapkanlah perkataan yang baik.

Ayat ini tentu tidak hanya ditujukan buat isteri Rasul semata. Untuk itu kita perlu berhati-hati terhadap suara yang mendayu, mendesah, merayu seperti sering dieksploitasi media massa.

7. Rambu seluruh tubuh, dasarnya An-Nur/24:1, 31, Al-Ahzab/33:59).

“Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan perempuan-perempuan mukmin, ‘Hendaklah mereka itu memakai jilbab atas dirinya.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenal, maka mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampunlagi Maha Penyayang”.

Ayat di atas mewajibkan kita untuk menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, kecuali muhrimnya. Sementara untuk pria auratnya adalan antara pusar dengan lutut.

Dalam operasional pergaulan Islam ada aturan baku yang mesti mutlak untuk ditaati a.l. :

1. Wajib atas pria dan wanita untuk menundukkan pandangannya, kecuali empat hal :

v bertujuan meminang

v belajar-mengajar

v pengobatan

v proses pengadilan (At-Tarbiyah Al-Aulad Fil Islam, Abdullah Nashih Ulwan)

2. Menutup aurat secara sempurna, tidak sekadar tutup tapi masih kelihatan lekuk tubuh dan bentuknya.

3. Larangan bepergian buat wanita tanpa muhrim sejauh perjalan sehari semalam (pendapat lain, seukuran jamak sholat).

4. Bagi yang sudah berkeluarga, seorang isteri dilarang pergi tanpa ijin suami.

5. Larangan bertabarruj bagi wanita (bersolek/berdandan untuk memperlihatkan perhiasan dan kecantikan kepada orang lain) kecuali untuk suami.

6. Larangan berkhalwat (berdua-dua antara pria dan wanita di temapat sepi)

7. Perintah untuk menjauhi tempat-tempat yang subhat, menjurus maksiat.

8. Anjuran untuk menjauhi ikhtilat antara kelompok pria dan kelompok wanita.

9. Hubungan ta’awun (tolong menolong) pria dan wanita dilakukan dalam bentuk umum, seperti mu’amalah.

10. Anjuran segera menikah, bila tidak mampu suruhan berpuasa dilaksanakan.

11. Anjuran bertawakkal, menyerahkan segala permasalahan pada Allah.

12. Islam menyuruh pria dan wanita untuk bertakwa kepada Allah sebagai kendali internal jiwa seseorang terhadap perbuatan dosa dan maksiat.

Kita memahami bahwa masa muda adalah masa yang sangat berat. Ditambah faktor eksternal yang demikian kuat membelokkan tujuan utama beribadah mencapai ridha Allah, maka dalam penyampaian kebenaran ini juga perlu mendapat perhatian yang seksama. Kita tidak bisa saja dengan gampang memberi peringatan tanpa memahami uslub dan wasilah dakwah dan mengerti sejauh mana pemahaman yang dipahami teman dan masyarakat kita. Minimal yang mesti kita siapkan untuk berdakwah tentang etika pergaulan Islam ini adalah :

1. Menyamakan persepsi dan kepahaman, bahwa ini merupakan masalah yang besar dan cukup kompleks.

2. Memahami fiqh dakwah dan syar’i secara cukup komprehensif.

3. Memahami bahwa hidayah tidak bisa dipaksakan, tapi tetap kita mengupayakan sebab-sebab terjadinya sunnatullah (turunnya hidayah).

4. Mempelajari kaidah dakwah agar dalam proses penyampaiannya tidak mengalami benturan yang justru membuat kita tertolak seperti :

1. Qudwah sebelum dakwah ; peringatan harus dimulai dari diri kita dulu.

2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran ; menumbuhkan kasih sayang, perhatian, dan kelembutan dalam kata dan perilaku (suluk).

3. Mengenalkan sebelum memberi tugas ; tingkat kepahaman masing-masing orang berbeda, perlu pemahaman yang tepat.

4. Bertahap dalam pemberian tugas.

5. Mempermudah bukan mempersulit ; dalam menyampaikan jangan beri aturan yang rumit dan terkesan menakutkan.

6. Ushul sebelum furu’ : yang utama adalah mengajarkan tauhid sebelum yang lain.

7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman.

8. Memahamkan dengan perbuatan dan kata, bukan mendikte/instruksi.

9. Mendidik bukan menelanjangi ; bukan malah menyebarkan aib dan dosa orang lain.

10. Menjadi murid orang yang paham bukan hanya baca buku.

Terakhir dalam dakwah tentang pergaulan Islam, kita dianjurkan untuk tidak ekslusif artinya justru bergaul hanya kepada orang yang sepaham saja dan meninggalkan mereka yang awam terhadap Islam. Terpenting untuk menyerahkan diri kepada Allah segala urusan dan memperkuat ibadah-ibadah yang makin mengeratkan hubungan dengan Allah sehingga lebih bisa menjaga diri dari perbuatan yang mendekati zina, yang diharamkan Allah.

KepadaNya lah saja kita bertawakkal.

LOYALITAS DALAM JAMA’AH

“Sesungguhnya Pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi Pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. 5:55-56)

Termonologi Al-Wala’

Kata al-wala’ menurut bahasa berarti; mencintai, menolong, mengikuti, mendekat kepada sesuatu. Dalam lisaanul ‘Arabi; al-walaa’ berarti muwaalaat yang menurut Ibnul Arabi berarti dua orang yang saling berselisih lalu datang orang ketiga untuk mendamaikan. Kehendak untuk damai ada pada salah satunya lalu ia bantu dan menolongnya. Muwalaat (fi’il madhi): yang artinya “Fulan mengangkat Fulan sebagai pemimpinnya”. Kata al-wala’ menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhoi Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan orarng. Wilayah al-wala’; apa yang dicintai Allah. Ciri utama wali Allah; mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, ia condong dan melakukan semua itu dengan penuh komitmen.

Berwala’; Memperjelas Posisi Keimanan

Parameter kebenaran ‘tashdiiqul ‘iimaaniy’ seorang mu’min sesungguhnya adalah ditentukan dari kejelasan wala’nya. Al-Wala’ Wal-Bara’ adalah penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhoi Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai Allah dalam perkataan, perbuatan, kepercayaan dan orang. Kejelasan berwala adalah tuntutan atas dua kalimah syahadat yang telah diucapkannya. Seseorang menjadi jatuh posisinya pada derajat kekufuran dan batalnya status keislamannya manakala salah dalam menempatkan walanya. Sehingga bagi orang yang bersyahadat, kejelasan posisi wala’nya adalah sebuah keniscayaan atas kebenaran syahadatnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (5:51) lihat pula 9:24, 2:165, 3:128, 3:141, 5:51

Pandangan Islam terhadap wala Kesetiaan kepada Jamaah

Islam datang di muka bumi ini pada ghalibnya adalah melakukan revolusi totalitas terhadap bentuk wala al-jahili, yang bersandarkan wala’nya pada kelompok dan keluarga, berorientasi pada fanatic-me individualis dan kelompok serta memisahkan diri dari jamaah Islam. Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw menganjurkan kepada kita untuk mendahulukan wala’ kepada jamaah, serta memberikan ikatan emosional terhadap umat, daripada memberikan wala’ kepada kelompok dan keluarga. Sesungguhnya dalam Islam tidak ada individualisme, dan fanatisme kelompok.

Setelah datang Islam, maka Islam menetapkan bahwa pembelaan itu hanya milik Allah, RasulNya, dan kaum Muslimin, yakni Umat Islam. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang.” (al-Ma’idah: 55-56)

Mereka kemudian dididik oleh al-Qur’an dan sunnah Nabi saw untuk menjadi saksi keadilan bagi Allah, dengan melepaskan ikatan emosional dan cinta kepada sanak kerabat, serta tidak didasarkan kepada kebencian kepada musuh-musuhnya. Keadilan harus diletakkan di atas emosi dan ditujukan kepada Allah, sehingga seseorang tidak melakukan pemihakan kepada orang yang dicintai olehnya dan merugikan orang yang tidak dia sukai. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum Muslimin kerabatmu. . .” (an-Nisa’: 135)

Nabi saw sangat membenci fanatisme dan berlepas diri darinya,orang-orang yang menganjurkannya, orang-orang yang berperang karenanya, dan orang yang meninggal dunia karena membelanya. Beliau menganjurkan hidup berjamaah, dan menegaskannya dengan sabda, perbuatan, dan keteta-pannya. Dia memperingatkan agar orang tidak memisahkan diri darinya, berselisih pendapat, dan menyimpang dari jamaah tersebut. Di antara sabda Nabi saw yang berkaitan dengan perkara ini ialah:
“Tangan Allah berada di atas jamaah.”
“Berjamaah itu adalah rahmat, dan berpecah-belah adalah azab.”

Dalam lafaz yang lain disebutkan,
“Berjamaah itu adalah berkah dan berpecah-belah adalah azab.”
“Hendaklah kamu hidup berjamaah, dan janganlah kamu hidup berpecah-belah, karena sesungguhnya setan akan bersama orang yang sendirian, dan dia akan berada lebihjauh dari dua orang. Barangsiapa yang ingin merasakanhembusan angin surga, maka hendaklah dia melazimkan hidup berjamaah.”

Tanam Benih Ruuhul Wala’ Kepada Jamaatul Muslimin

Berbicara tentang pemberian wala’ kepada kaum Muslimin, umat Islam, tidak lepas dari konteks wala pada urusan masyarakat dan umat. Kalau kita perhatikan, maka sesungguhnya syari’ah Islam ini sama sekali tidak melalaikan urusan masyarakat, dari segi ibadah, muamalah, sopan santun, dan segala hukum yang berkaitan dengannya.

Semua aturan itu tidak lain adalah untuk menyiapkan setiap individu agar menjadi ‘bagian’ dalam bangunan masyarakat, atau ‘anggota tubuh’ dalam struktur badan yang hidup.

Yusuf Qaradhawi dalam Bukunya mengatakan: “Penggambaran seorang individu yang menjadi ‘bagian’ dari bangunan, atau ‘anggota tubuh’ dalam badan manusia, bukanlah berasal dari pemikiran saya. Tetapi gambaran yang pernah dikemukakan oleh Nabi saw dalam sebuah hadits yang shahih.”

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari bahwasanya Nabi saw bersabda,
“Orang mukmin dengan mukmin yang lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.”

Bagaimana Implementasi Wala’ Dalam Qiyadah Jamaah?

Allah SWT menegaskan dalam Surat 5: 55-56 tentang lingkup wala’ seorang mu’min (dengan sebutan ‘kamu’) adalah ketika bentuk loyalitas perjuangannya dii’timadkan (disandarkan, pen) pada Allah, Rasul-Nya dan Orang-Orang beriman yang secara implisit didefinitifkan sebagai hizbullah (pengikut/ kelompok/partai Allah).

Lalu siapa Hizbullah itu?, sebagaimana platform dakwah dalam jamaah kita, posisi kita sudah sangat jelas; mengikrarkan diri sebagai jamaah dakwah; partai dakwah. Sebab agenda aksi kita adalah dakwah. Pergerakan kita adalah dakwah yang ingin melakukan perubahan yang universal (menyeluruh) bukan sekedar harakah siyasiyah ‘gerakan politik’. Sebab kita adalah menjadi barisan hisbullah, maka loyalitas wala qiyadah (kepemimpinan) kita adalah kepada Allah, RAsul-Nya dan orang yang beriman.

Dalam konteks merebut kepemimpinan. Kemenangan kita bukan hanya berorientasi pada kemenangan politik, ekonomi, sosial, tetapi kemenangan dakwah. Sekali lagi; kemenangan dakwah. Secara universal. Sehingga pergerakan jamaah dakwah kita tidak dapat dilihat dalam konteks nasionalisme keindone-siaan semata tetapi merupakan bagian dari gerakan Islam di dunia.

Dus, Kepemimpinan dakwah adalah sesuatu yang sangat istimewa yang berbeda dengan kepemimpinan yang lain. Yakni kepemimpinan yang mengajak, mengarahkan dan mempengaruhi manusia ke jalan Allah Ta’ala, mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyyah kepada cahaya Islam yang terang benderang. Organisasi kita tidak disekat oleh kebangsaan, bahasa, atau geografis. Kegiatan kita di sini terkait dengan aktifitas ikhwah di belahan dunia lain.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “ [9 : 71]

Maka. Setiap orang di dalam gerakan dakwah wajib memberikan loyalitas (wala) mutlak kepada Allah, Rosul dan Qiyadah Dakwah di atasnya.

Wallaahu a’lam Bishawwab.

KATA-KATA MUTIARA

Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. "Saidina Ali bin Abi Talib"

Kecantikan bukan terletak pada pakaian yang dipakai tetapi ia bergantung kepada keelokan akhlak dan budi pekerti. "Saidina Ali bin Abi Thalib"

Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah. "Saidina Abu Bakar As-Siddiq"

Alangkah buruknya kepapaan, kalau aku mengadu aku malu, kalau aku berdiam diri aku binasa. "Saidina Ali bin Abi Talib"

Jangan berkawan dgn orang yang tamak kerana pada zahirnya ia ingin membahagiakanmu tapi hakikatnya dia akan mencelakan . Jauhilah berteman dengan pembohong kerana ia boleh menjadikan orang yang dekat lari daripadamu dan sebaliknya .Janganlah berkawan dengan orang yang bakhil kerana ia akan melupaimu di waktu kamu sangat memerlukannya dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka berbuat jahat kerana ia tidak malu untuk menjualmu dengan harga yang sangat murah. "Saidina Ali bin Abi Thalib"

Hanya lidah yang mahu berdusta dan berbohong. Namun pandangan mata, hayunan kedua belah tangan, langkah kedua belah kaki dan pergerakan tubuh atau seluruh anggota badan akan menafikan apa yang diucapkan oleh lidah. "Khalifah Ali bin Abi Talib"

Jangan engkau percaya melihat kegagahan seorang lelaki. Tetapi jika mereka teguh memegang amanah dan menahan tangannya daripada menganiayai sesamanya, itulah lelaki yang sebenarnya. Khalifah Umar al-Khattab"

Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya "Khalifah Ali bin Abi Talib"

Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut
"Saidina Umar bin Al-Khatab"

Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani. "Khalifah Ali bin Abi Talib"

Agama buat kehidupan di akhirat, harta buat kehidupan di dunia. Di dunia orang yang tidak berharta berasa susah hati, tetapi orang yang tidak beragama merasa lebih sengsara. "Saidina Abu Bakar As-Siddiq"

Kekayaan yg sebenar ialah akal , kepapaan yg sebenar ialah rosak akal . Sepi yang sebenarnya ialah kagum dengan diri sendiri dan kemuliaan yang sebenar ialah akhlak yg baik. "Saidina Ali bin Abi Thalib"

Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya. "Saidina Umar al-Khattab"

SEPUTARAN FAKULTAS

Mahasiswa Dakwah IAIN Mataram Gelar Safari Ramdahan

Mahasiswa fakultas Dakwah IAIN Mataram Jumaat 19 September 2009 menggelar kegiatan safari ramdahan. Kegiatan ini bertujuan memupuk tali silaturahim antar masyarakat desa dan sekaligus sosialisasi tentang pentingya Pendidikan. Kegiatan ini diikuti oleh dua jurusan dari Fakultas Dakwah. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Kegiatan Safari ramdahan bukan kali pertama dilakukan mahasiswa dakwah melainkan menjadi agenda tahunan. Untuk kali ini sasaran lokasi bertempat di dusun Longserang Baret Utara desa Langko kecamatan Lingsar. Alasannya, menurut keterangan ketua panitia, Azhari menjelaskan selain dekat dari kampus dusun Longserang Baret Utara memang sangat setrategis untuk berdakwah. Karena dari letak giografis, dusun Longserang Baret Utara berada di pedalaman, jauh dari desa Induk, dan persentase penduduknya tergolong sedikit dari dusun-dusun yang ada di desa Langko serta tingkat pendidikan rata-rata tamatan SD dan SMP.

Melewati perjalanan yang penuh bebatuan, mahasiswa dakwah sampai juga di lokasi pukul 15.30 setelah sebelumnya berangkat dari kampus pada pukul 15.00. selain jalan penuh bebatuan dusun longserang juga berada di daerah dataran tinggi sehingga untuk dapat menempuhnya kebanyakan orang menggunakan kedaraan roda dua. Namun rombongan Safari nekat menggunakan Bus sampai tujuan walaupun jalannya berlubang dan bebatuan.

Malam pertama dilokasi safari, mahasiswa mengadakan terawih dengan masyarakat kemudian dilajutkan dengan acara sosialisasi dan perkenalan. Acara dibuka oleh Abdul Wahid, M.Pd selaku Pembantu Dekan III Fakultas Dakwah dan sambutan kedua dari Tokoh masyarakat. Selanjutnya acara ceramah bertemakan padilah ramdhan disampaikan oleh Ustazd Muhammad Sa’i, M.Si dosen sekaligus ketua jurusan KPI.

Kegiatan safari ramdhan mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Dikarenakan selain meramaikan desa keberadaan mahasiswa pula menjadi sepirit baru bagi mereka. Terutama mampu memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan terutama pendidikan tentang agama. Menurut ,ungkapan kepala Desa Langko dilain kesempatan mengatakan, dusun Longserang barat utara baru kali pertama ini dikunjungi oleh mahasiswa dan ia sangat berterimakasih kepada mahasiswa dakwah karena memilih dusun longserang sebagai sasaran dakwahnya.

Kegiatan safari Ramdhan ini berlangsung selama dua hari dua malam. Mulai hari jumat sampai dengan malam sabtu. Selain kegiatan rohani kegiatan sosial pun dilaksanakan seperti melakukan pembersihan jalan, masjid dan mushala yang ada di dusun tersebut dengan melibatkan masyarakat setempat. Hingga malam puncaknya, mahasiswa menggelar nonton bareng yang menyuguhkan film-film yang bernuansa religi. Salah satunya film perjalanan dakwah Rasullah yang berjudul............

KIPRAH KEGIATAN HMJ-KPI DI SAYEMBARAKAN

Oleh : H.R. Aswadi

Kiprah kegiatan HMJ-KPI merupakan dakwah dan penyiaran memiliki nilai-nilai universal agama untuk mendukung kemajuan ummat dan masyarakat, fenomena ini, seringkali dimaknai dengan aktivitas tabligh di mimbar-mimbar masjid dan disampaikan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas (da’i). Padahal, penyemaian nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat merupakan aktivitas yang komprehensif dengan melibatkan berbagai macam cara, media, dan subjek. Apalagi dunia sekarang ini, menawarkan berbagai perkembangan mutahir yang memungkinkan terjadinya kreatifitas di bidang dakwah dan komunikasi agama.

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) merupakan jurusan yang selalu orentasinya ke dunia tulis menulis (jurnalis).

Dunia tulis-menulis (jurnalisme) merupakan salah satu wahana yang yang sangat tepat untuk dijadikan sebagai sarana berekspresi dalam menyiarkan agama. Apalagi pada sekarang ini banyak digunakan oleh berbagai kalangan untuk menyebarkan gagasan serta menawarkan nilai-nilai bagi acuan kehidupan yang lebih baik. Banyak pihak yang memanfaatkan perkembangan teologi komunikasi sebagai cara dan wahana untuk menggali dan mengembangkan kreatifitas mereka di bidang jurnalisme, namun masih banyak juga yang belum menemukan wahana untuk pengembangan bakat dan kreatifitas mereka.

Di tengah keadaan yang bertentangan tersebut, dirasa perlu diciptakan wadah seperti halnya sayembara menulis Bagi mereka yang telah mulai mengembangkan kreatifitas tulis-menulis, sayembara merupakan wadah untuk menampung hasil kreatifitas dan usaha mereka dalam menyebarkan gagasan-gagasan Islami. Sementara bagi yang belum atau mau memulai, dengan adanya sayembara diharapkan bisa bangkit motivasinya dalam berkarya dan berbuat untuk menebar kebaikan bagi dirinya dan ummat.

Atas dasar itulah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) sebagai salah satu organisasi kemahasiswan menganggap perlu mengadakan sebuah kegiatan yang bernilai kesayembaraan menulis (jurnalime), hal ini sebagai sarana untuk menumbuh-kembangkan semangat kreatifitas dalam dunia tulis menulis (jurnalisme) di kalangan kaum Intelektual Muda, dan khususnya Mahasiswa fakultas dakwah & komunikasi.

HMJ-KPI & PMI GELAR PELATIHAN JURNALISTIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

HMJ-KPI & PMI merupakan jurusan yang berbeda orentasinya. orentasi KPI cendrung ke dunia jurnalis dan media sedangkan PMI cendrung kepemberdayaan masyarakat. namun walaupun berbeda, kedua jurusan tersebut mampu menggelar satu kegiatan dalam bentuk yang sama. yaitu melakukan kegiatam pelatihan Jurnalistik Pemberdayaan Masyarakat”.

Dalam pelatihan jurnalistik pemberdayaan masyarakat ini memiliki tujuan untuk mengubah pola pikir mahasiswa Fakultas Dakwah & Komunikasi menjadi mahasiswa yang frofesional dalam bidangnya. selama ini. bacaan tentang Fakultas Dakwah & Komunikasi hanya identik kepada jamaah tablik, pidato di mimbar. Disamping itu juga, bertujuan untuk membaca potensi mahasiswa yang bakat dalam bidang jurnalistik. kata ketua HMJ-KPI ketika saya temukan ruangnya..

pelatihan jurnalistik pemberdayaan masyarakat ini merupakan wadah pembelajaran bagi mahasiswa dakwah & komunikasi, kita dari HMJ mau buktikan atau mencoba melakukan dakwah dan pemberdayaan masyarakat lewat dunia tulis menulis maupun dunia media penyiaran. pasalnya kebanyakan orang melakukan dakwah melalui podium saja,.

Kalau kita melihat sejarah tokoh-tokoh islam kita, seperti Al-Gazali beliau terkenal sampai sekarang gara-gara berdakwah melalui tulisannya ( karyanya ) dan banyak juga ulama-ulama kita yang lain terkenal gara-gara tulisannya. Bahkan AlQur’an seandainya tidak ditulis mungkin kita tidak mengenalnya. inilah satu kehebatan kita berdakwah melalui tulisan. tambah nya

Diselain itu juga. saya mewancara salah satu panitia kegiatan tersebut tentang peserta kegiatan, dia mengatakan mengenai peserta kita ambil dari mahasiswa Fakultas Dakwah dan komunikasi saja, target kita sebenarnya 50 orang. kalau mengenai pemateri kita ambil dari kalangan aktivis penulis muda yaitu Farid Tolomundu dan Akademisi yaitu Abdul Wahid beliau salah satu dosen Dakwah di sisi lain beliau seorang aktivis LSM . ujarnya’.

Dan juga kegiatan ini, memiliki output yang sangat menunjang bagi masa depan mahasiswa Fakultas Dakwah & Komunikasi. outputnya adalah pertama menuntut mahasiswa menjadi penulis frofesional, reforter, wartawan, dan buletin.